MEMBERSAMAI SENJA

Oleh: Samiun Alim, S.Pd.M.Pd.

            Senja memiliki keindahan. Seperti matahari yang perlahan tenggelam di ufuk Barat. Demikian pula guru yang  akan memasuki masa purnabakti dapat diibaratkan sebagai senja dalam dunia pendidikan. Fakta perjalanan diri yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membimbing dan menginspirasi generasi muda, tak dapat dipungkiri. Guru juga berupaya memberikan kontribusi yang sangat berharga kepada siswa untuk menerangi jalan mereka menuju masa depan. Berbagai perubahan serta tantangan baru ada dihadapkan. Salah satu perubahan utama yang harus dihadapi adalah kemajuan teknologi digital yang telah mengubah cara belajar, bekerja, dan termasuk dalam dunia pendidikan.

            Generasi muda tumbuh pada era transformasi digital yang membawa terbiasa dengan perangkat pintar serta aplikasi pembelajaran online. Aktif dalam menggunakan perangkat lunak pembelajaran, platform virtual, dan sumber belajar digital lainnya guna menciptakan pembelajaran yang menarik serta bermanfaat bagi peserta didik. Hal ini menjadi tantangan mengapa guru yang akan memasuki masa purnabakti harus beradaptasi dengan perubahan untuk mengikuti serta memahami perkembangan teknologi agar pembelajaran tetap efektif dan relevan bagi peserta didik masa kini.

            Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kebudayaan Kota Medan, tercatat lebih 35% guru di Kota Medan akan memasuki masa purnabakti atau dengan kata lain usia mereka diatas 50 tahun salah satu contoh real adalah UPT SMP Negeri 9 Medan dari 32 guru yang mengajar 25 orang usianya diatas 50 tahun. Sebagian besar dari mereka belum memanfaatkan teknologi secara maksimal dalam proses pembelajaran. Akibatnya, mereka melewatkan peluang dalam mengemas pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Hal ini juga berdampak negatif pada peserta didik. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan untuk bersaing di dunia yang semakin canggih. Oleh karena itu, perlu adanya penanggulangan terhadap masalah tersebut. Guru yang berkualitas, baik guru yang masih muda maupun guru yang akan memasuki masa purnabakti.

Berlandaskan latar belakang tersebut penulis tergugah untuk berkontribusi mewujudkan guru inovatif di era transformasi digital yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan. Melalui karya tulis ini, Ada beberapa gagasan yang selama ini telah penulis lakukan untuk mengatasi guru yang usianya di atas 50 tahun atau akan memasuki masa purnabakti. Sebut saja motto “Guru Anti Gaptek” dengan konsep “Pantang Mengajar Kalau Tidak Belajar”, antara lain:

  1. Membersamai dalam Pelatihan

Saat ini, telah tersedia banyak pelatihan yang ditawarkan untuk para guru agar mereka tidak terjebak dalam gagap teknologi. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga telah memberikan program pelatihan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk memastikan kompetensi guru dalam bidang TIK sesuai dengan standar kompetensi TIK yang telah ditetapkan oleh UNESCO untuk guru. Bahkan dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran TIK menjadi salah satu mata pelajaran (mapel) yang wajib diajarkan kepada peserta didik. Selain pemerintah lembaga lain seperti Ikatan Guru Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia dan komunitas belajar lainnya juga banyak menawarkan serta memberikan pelatihan–pelatihan secara gratis. Kami terus membersamai guru-guru senior yang akan memasuki masa purnabakti atau pun yang masih junior untuk terus berlatih.

  1. Membersamai dalam menggunakan Aplikasi

Banyak sekali aplikasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatifitas.Saat ini UPT SMP Negeri 9 Medan membuat aplikasi “GUJI.” Aplikasi ini  memudahkan guru untuk mengajar serta menghadirkan pembelajaran  agar lebih menarik dan modern. Hanya satu klik saja siswa sudah dapat melihat video pembelajaran, game pembelajaran dan lain–lain. Guru diharapkan mampu menyinergikan kebutuhan atas perubahan zaman. Sehingga aplikasi untuk pembelajaran harus menarik dan interaktif sehingga menjadikan peserta didik senang serta nyaman saat belajar. Adapun langkah – langkah yang dilakukan untuk mengunakan aplikasi sederhana GUJI ini seperti di bawah ini…….

  1. Sharing and Growing Togather

Berbagi dan tumbuh bersama adalah tekad kami guru–guru di UPT SMP Negeri 9 Medan. Hal ini seiring dengan upaya meningkatkan kualitas proses mengajar dan belajar. Tekad untuk kemajuan bersama tanpa ada perasaan malu bertanya, enggan memberi, kami kubur dalam-dalam. Prinaip kami, memberikan pengajaran terbaik merupakan ladang ibadah buat kita semua.

  1. Berkunjung dan Berlatih di Rumah (Home Visit).

Saya teringat akan petuah “Lancar kaji karena berulang”. Guru tentu kerap mengingatkan siswanya untuk terus berlatih setelah menerima suatu materi pelajaran agar tidak mudah lupa. Hal ini juga berlaku bagi guru. Meskipun sudah memiliki gelar akademik (sarjana, magister, atau doktor) serta diakui sebagai guru senior, tidak ada istilah untuk berhenti belajar. Guru diharapkan terus mempraktikkan hasil pelatihan secara mandiri dan terus dilakukan pendampingan baik di rumah maupun di sekolah agar terbiasa dengan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Kegiatan berlatih ini dapat dilakukan dengan mengoperasikan komputer atau laptop sebagai salah satu teknologi utama yang mendukung kegiatan belajar. Jangan pernah menyerah dalam belajar karena pada akhirnya hal ini sangat berguna bagi keperluan mengajar dan bekerja.

  1. Kolaborasi

Medan punya motto yang luar biasa Kolaborasi Medan Berkah. Sejalan dengan itu, pemerintah juga memberikan program yang mendukung pengembangan keterampilan guru, salah satunya adalah Program Guru Berbagi. Dalam program ini, guru berkesempatan untuk berkolaborasi dengan guru lain, melalui komunitas, penggerak pendidikan, hingga pemerintah. Dalam pelaksanaannya, terdapat banyak kegiatan berbagi pengalaman, informasi terbaru, dan ide-ide yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.

            Guru bukan hanya seperti senja yang tenggelam, melainkan juga sebagai sumber cahaya yang terus bersinar untuk masa depan generasi muda Indonesia. Demikian esai ini ditulis untuk mengembangkan potensi guru dalam menghadapi perubahan teknologi dan menawarkan solusi konkret guna membantu guru yang akan memasuki masa purnabakti untuk tetap berdaya saing dalam dunia pendidikan yang semakin modern.

LAMPIRAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, bertindak sebagai peserta Lomba Essay Piala Pendidikan Bobby Nasution 2023:

Nama              : Samiun Alim, S.Pd. M.Pd.

Judul Essay     : Membersamai Senja

Sekolah           : SMP Negeri 9 Medan

Alamat            : Jl. TB Simatupang No.118 Medan, Sunggal, Kec. Medan Sunggal,

                          Kota Medan Prov. Sumatera Utara

            Menyatakan bahwa naskah Essay yang saya ikutkan pada Lomba Essay dSociety National Competition 2023 ini adalah benar-benar karya saya (bukan plagiasi) dan belum pernah diikutkan/tidak sedang diikutkan pada lomba sejenis.      Apabila di kemudian hari terdapat gugatan hak cipta, saya selaku peserta Lomba Piala Pendidikan Bobby Nasutionakan bertanggung jawab penuh dan menerima sanksi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Medan, 8 September 2023 Yang Menyatakan

Samiun Alim, S.Pd.M.Pd.

NIP.196912061995121001

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *